![]() |
| Porara Swamp & limestone cliffs, SE Sulawesi.jpg |
Pada
tahun 2011 ketika dia masih peserta pemuda pembinaan Australia dan
bekerja sebagai sukarelawan, anak saya Linda McRae mengunjungi desa
Tapanggaya di Konawe Utara, Sulawesi. Dia sangat terkejut atas
pengrusakan mata air, perikanan dan kesuburan tanah yang disebabkan oleh
pertambangan.
Ketika mengunjungi desa-desa Linomoyo dan Bendewuta dia
mendengar permohonan untuk pertambangan batu kapur dekat rawa Porara,
tempat pencarian nafkah masyarakat. Linda tidak ingin apa yang terjadi
di Tapanggaya, terjadi di rawa Poraya. Oleh karena itu, dia membuat film
untuk menyadarkan kepentingan rawa Porara untuk kehidupan dan pencarian
masyarakat sehari-hari.
Pada 27 Januari 2012, sebelum film diselesaikan Linda meninggal dunia dari tumor otak. Saya
ke Indonesia di bulan Juni 2012 untuk mengunjungi tempat-tempat di mana
Linda pernah, tinggal dan bertemu dengan orang-orang yang berteman
dengan Linda. Juga untuk bertemu LSM LePMIL dan membantu mereka untuk
menyelesaikan film Linda.
Filmnya
berjudul Rawa Kehidupan sudah diselasaikan, sama seperti yang Linda
inginkan. Itu tentang kehidupan para nelayan di rawa Porara dan
kepentingan lingkungan untuk masyarakat. Linda ingin menunjukkan film
ini kepada masyarakat jadi mereka sadar dan tidak menjual tanahnya
kepada pertambangan atau penanaman kelapa sawit yang akan mengancam
kerusakan rawa Porara.
Pada
bulan agustus saya berkunjung ke Bendewuta dan Linomoyo dengan crew
LePMIL untuk pengambilan gambar rawa kehidupan, oleh karna pembuatan
film ini banyak diskusi tentang hal hal masa depan pendapatan
perekonomian masyarakat. Bapak sumardin kepala desa Bendewuta, mengerti
tentang perbedaan pendapatan dari pemeliharaan dan penjagaan lingkungan
bekelanjuta daripada hasil penjualan tanah yang merusakan lingkungan.
Oleh karena film yang di buat linda masyarakat mengerti tentang isu isu
pengrusakan lingkungan. Saya percaya bahwa rawa Porara akan terlindungi
oleh bimbingan kepala desa dan pemerintah setempat.
![]() |
| Film Rawa Kehidupan |
Setelah
film di putar di kendari, nasihat dari penayangan film dan LSM adalah
film tersebut seharusnya menceritakan tentang bagaimana pentingnya rawa,
hutan dan pegunungan menyatu. Yasril, pimpinan LSM LePMIL, dan saya
percaya bahwa film sudah berhasil seperti yang Linda inginkan, walaupun
ada banyak kesempatan untuk lebih mendidik masyarakat. Dengan melakukan
penelitian selanjutnya dan mengambil pengambaran lagi agar film itu bisa
menjadi cerita tentang penjagaan lingkungan dan bisa digunakan sebagai
program pemeliharaan lingkungan, regional dan nasional, bahkan mungkin internasional. Jadi warisan Linda untuk LePMIL bisa menjadi item penting untuk Indonesia dalam lingkungan dan juga mendorong kolaborasi antara LSM lokal.
800
dolar tetap dari total 4.000 dolar disumbangkan ke Linda McRae
Dreaming, termasuk 500 dolar dari kemurahan hati majalah Taman Bumi.
Kami telah menunggu uang lain yang dimiliki Linda di rekening bank
Indonesianya di atas nama teman terpercaya. Sayangnya tampaknya
kepercayaannya pada temannya itu tidak baik karena uang Linda tidak di
kembalikan. Akhirnya saat ini kita tidak dapat menggantikan kamera film
yang lama dan tidak dapat diandalkan LePMIL dengan model yang baru yang
sesuai dengan komputer Apple baru dan software Final Cut yang dibeli
oleh Austraining. Namun Yasril berencana untuk menulis proposal untuk
memintah dana yang akan memastikan penelitian dan pembuatan film pada
masa depan.
Walaupun
Linda hanya ada 2 perjalanan ke Linomoyo dan Bendewuta dan tinggal 10
hari saja, dia membuat kesan yang sangat kuat bahwa dia memiliki banyak
teman akrab, semuanya terkejut dan sedih mendengar kematian Linda yang
tiba-tiba. Sumardin masih memiliki tongkat pengukur, yang digunakan oleh
Linda dan kru LePMIL untuk mengukur tingkat air untuk proyek hidro
potensial, yang Linda memintanya untuk menjaga sampai dia kembali.
Ekeng, sutradara film LePMIL, bertanya kepada teman Lina yang bernama Risa untuk membantu dengan film memorial Linda. Setelah melihat materi, Risa memilih "Another Day" dengan Dream Theater sebagai musik latar belakang untuk menginspirasi orang lain untuk memenuhi impian Linda. Kurangnya penerjemah telah menyebabkan keterlambatan dalam penyelesaian cerita ini.
Ekeng, sutradara film LePMIL, bertanya kepada teman Lina yang bernama Risa untuk membantu dengan film memorial Linda. Setelah melihat materi, Risa memilih "Another Day" dengan Dream Theater sebagai musik latar belakang untuk menginspirasi orang lain untuk memenuhi impian Linda. Kurangnya penerjemah telah menyebabkan keterlambatan dalam penyelesaian cerita ini.
Pemimpin
Komunitas Bendewuta, Bapak Taufik, menantang saya untuk belajar Bahasa
Indonesia jadi saya bisa kembali untuk berbicara dengan masyarakat. Saya
harap saya bisa mencapai standar yang wajar dalam Bahasa sehingga saya
bisa melakukan itu, juga untuk membantu staf LePMIL untuk belajar Bahasa
Inggris dan mengembangkan potensi Rawa Kehidupan. Proyek lain yang
penting bagi saya adalah memiliki tesis Linda, namanya “Resistance”,
pertanyaan tentang pemerintahan dan pembangunan di Jawa Timur hutan
kemasyarakatan (2009), tersedia dalam Bahasa Inggris dan Indonesia di
website LePMIL itu.
Dengan cara ini saya bisa memastikan bahwa nama Linda tidak akan terlupakan di negara yang dia cintai.
Dengan cara ini saya bisa memastikan bahwa nama Linda tidak akan terlupakan di negara yang dia cintai.
Jo McRae.
Untuk menyumbang ke “Linda McRae Dana Bermimpin” telusurih http://www.heavenaddress.com
Semua sumbangan akan digunakan untuk kemanfaatan lingkungan di Sulawesi Tenggara.
Semua sumbangan akan digunakan untuk kemanfaatan lingkungan di Sulawesi Tenggara.
Terlampir Foto:
Linda di prahu dengan nelayan dan ikan
tangkapannya di Rawa Porara
film penutup Rawa Kehidupan
Rawa Porara dan tebing kapur
Read More »







